Feeds:
Tulisan
Komentar

Puisi

Ironi Sungai

 

baru saja airmu menyentuh kakiku

susuri rangkaian garis tak beraturan

dan menggoda titiktitik hidup

              :yang bersemayam di tapaknya

 

tapi tak terasa kesejukan

seperti kerap terkisah dalam bisikbisik masa lalu

dan gelitikmu di kakiku seumpama aliran airmata

             :senandung apa yang ingin kau nyanyikan?

 

lamat-lamat suaramu menyelinap di sela gemericik,

“seorang gadis kecil telah memecahkan beningku!”

 

kulihat alirmu, masih indah, setia memberi gairah

dan pecahan bening kerap merajut butirbutir serakan alirmu

“seperti gadis kecil itu, akupun kerap mencumbumu!”

 

kau menghentak tapak kakiku,

“ia telah bersemayam di kedalaman!”

 

Jambi, Juni 2008

Essay Seni

Rabka: Ketika Nurani Menggedor Otak

Rasanya setiap agama mengutuk kemiskinan dan membenci kriminalitas. Tapi pemeluk-pemeluk teguh kadang-kadang tidak dapat melihat aspek kausalitas tak berhingga dari kedua noda itu. Kemiskinan adalah pangkal kriminalitas. Maka memberantas kriminalitas seharusnya dimulai dengan menggusur kemiskinan. Seharusnya sesederhana itu. Nyatanya tidak. Ketika kriminalitas memberikan dampak kesejahteraan yang lebih mengenyangkan dan menyenangkan daripada usaha halal, manusia cenderung bersikukuh berada dalam tindak kriminalitasnya. Karena hal itulah maka saya mengatakan kemiskinan dan kriminalitas memiliki aspek kausalitas tak berhingga karena keserakahan manusia tidak akan berhenti kecuali manusia yang bersangkutan mati.

Teks “Rabka” adalah imajinasi Arthur S. Nalan tentang aspek kausalitas tak berhingga ini. Rabka adalah orang miskin yang mimpinya cuma satu; hidup sejahtera. Tapi nasib berkata lain, Rabka tidak hanya sejahtera; Rabka hidup kaya raya. Sayangnya kekayaannya tidak menjanjikan ketenangan batin karena asal muasal kekayaan ini adalah juluran benang kusut sebuah sistem korupsi. Dan lagi-lagi walau batin Rabka terketuk, kenikmatan dan kenyamanan tidak mampu menghalanginya melakukan tindak kriminalitas.

Aspek kausalitas tak berhingga ini bisa dianalogikan dengan sebuah labirin yakni skema arsitekstur perlindungan yang terletak pada lantai pertama sebuah puri. Fungsinya sebagai jalan tipuan dengan banyak ruang dan pintu yang menjebak. Labirin adalah ruang mematikan karena sekali seseorang terjebak di dalamnya, mungkin sekali tak sorang pun akan mengetahui di mana orang yang terjebak itu secara tepat berada juga biasa dipakai untuk menguji ketajaman pikiran seseorang, sekaligus sebagai sarana menghukum mati.

Rabka terjebak dalam ruang ini. Ketakutan, kecemasan dan rangkaian naluri purba sangat mendominasi sehingga Chory Marbawi terperangkap dalam derita Rabka. Kekayaan merubah kemiskinannya sekaligus merubah kesederhanaan. Tenggelam dalam kemewahaan dan kemudahan kalaupun pada waktu tertentu ada kerinduan terhadap masa lalu, kerinduan ini pun sesaat. Labirin sebagai ruang penghakiman menjebaknya, mempermainkan sekaligus menjadi kubur bagi Rabka. Dengan kata lain Rabka adalah pelaku tunggal dalam teks, ia merepresentasikan keseluruhan aspek kejiwaan, dalam bahasa Freud, derita Rabka adalah komplikasi id, ego, dan super ego. Pertentangan antara kebutuhan purba yang selalu menuntut dipenuhi, kesadaran manusiawi, dan keharusan patuh pada nilai-nilai norma.

Pada dasarnya pementasan monolog “Rabka” karya Arthur S Nalan dengan aktor Chory Marbawi sekaligus sebagai sutradaranya mampu menghadirkan kekalutan akibat pertentangan id, ego, dan super ego. Pemahaman teks dilakukan dengan baik sehingga ketika proses pemahaman ini direpresentasikan ke pentas monolog juga mampu menciptakan kekalutan dalam benak penonton. Kekalutan karena asing terhadap tema yang dipilih, kekalutan karena ketidaksesuaian keinginan dengan kenyataan (maksudnya menonton pertunjukan teater yang mudah difahami dan mampu menghibur).

Kekuatan ataupun jika boleh dinyatakan sebagai kelebihan Chory baik sebagai aktir maupun sutradara adalah kemampuan untuk bertanggungjawab sebagai tokoh tunggal yang diberi beban psikologis. Ia benar-benar menjadi Rabka ketika harus menjadi Rabka pada saat lain juga menjadi diri sendiri ketika harus menjadi diri sendiri. Dalam konteks ini harus pula dinyatakan bahwa kritik terhadap aktor adalah dominasi aspek personalitas dalam pementasan. Chory adalah Chory juga Chory adalah Rabka.

Keberhasilan lain dalam pentas monolog ini adalah kesesuaian musik pendukung yang ditata Andi Amau Pradinata. Faktor ini pula yang menjadi pendukung utama Chory sebagai aktor dalam menciptakan ketakutan dan kekalutan dalam benak penonton. Pencahayaan pun juga menarik. Kekusutan makin diperkuat dengan dominasi warna yang menciptakan kesuraman tersendiri. Hanya saja ingin selalu diingatkan bahwa pemilihan naskah dalam kondisi kita (Jambi maksudnya) harus memperhitungkan audiens. Hal ini dikarenakan perkembangan teater kita masih pada tahap menyukai sehingga cenderung yang dilakukan memperkuat basis-basis untuk mendukung keberhasilan eksistensi berteater. Egoisme kelompok menjadi sangat dominan, celakanya kondisi ini dilakukan oleh seluruh kelompok teater di Jambi dan pekerja-pekerjanya. Entah diakui ataupun tidak.

 

Firdaus Malaka

Essay Seni

“Ini adalah isi kepala kalian”: Schizoprenia yang Paranoid

Jum’at, 23 Mei 2008 di Taman Budaya Jambi representasi schizophrenia tiba-tiba muncul. Semua orang meragukan kemampuan kognitif isi kepalanya. Kondisi ini tercipta karena kemampuan Maria Yulitasari pada pentas monolog “Hung Voices” atau “Lupa Kau Lupa Aku” dalam Air Sepekan Monolog. Perantau ini berproses di Teater AiR yang kemudian memilih Yogyakarta sebagai tempat pendewasaan, studi penulisan skenario di ISI Yogya dan mengolah di Teater Teku dan SAC (Student Acting Centre). Sebagai sosok yang berkembang di wilayah (dalam hal ini Yogyakarta) dengan pergulatan kreatif dan dinamika kesenian yang terus bergerak, pementasan monolog ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi penggiat teater di Jambi bahwa kekuatan teks dan juga pemahaman terhadap teks sangatlah penting.

Naskah “Hung Voices” mengimajinasikan bentuk baik dalam pikiran dan gerak. Ini direpresentasikan dengan simbolisasi gambar-gambar pada jaring laba-laba yang pada dasarnya juga hendak mengungkapkan kekuatan jaringan pikiran. Dalam situasi ini ragam imajinasi tercipta pada penderita schizophrenia sebagai akibat teror terhadap pikiran baik karena faktor kecemasan, ketakutan ataupun hal-hal yang menyebabkan penderitaan dan kesakitan baik psikis maupun jiwa. Jika hendak dikatakan sebagai kekuatan maka pengungkapan imajinasi bentuk dalam kondisi schizophrenia merupakan tema utama teks ini. Teks “Hung Voices” menunjukkan, teks harus ditulis setelah melalui tahapan riset dan diskusi intensif sehingga tidak menjadi naskah hampa. Celakanya, kita  teramat sering menulis teks baik skenario dan naskah dalam situasi fisik dan kejiwaan yang tidak labil.

Eskploitasi tubuh melalui ungkapan-ungkapan gerak lentur merupakan suatu pembuktian maksimalisasi gerak fisik yang menyatu dengan eksploitasi ruh tubuh. Ragam kepribadian terpapar nyata meskipun secara kejiwaan terkungkung rumah pikiran. Keterkungkungan ini tercipta karena adanya interpensi suara-suara yang secara material sebetulnya tidak ada tetapi seolah-olah “diadakan” dalam alam pikiran normal. Tahapan mendasar dalam kasus schizophrenia ini akan berubah menjadi split personality bahkan multi kepribadian karena kondisi paranoid yang terus menerus mengganggu. Betapa tidak, Maria mampu hadir dalam tubuh Sen, perempuan, Aura, Alpa, Sweety, dan tokoh-tokoh bentukan imajinatif lainnya. Maria adalah Sen, adalah perempuan, adalah Aura, adalah Alpa, adalah Sweety, adalah pelacur, adalah tokoh imajinatif lainnya.

Kemampuan ini didukung pemahaman teks yang baik. Pada pementasan ini, teks tidak hanya sekedar teks tetapi menjadi jiwa keseluruhan pertunjukan. Schizophrenia hadir pula dalam benak penonton. Keterlibatan penonton dimulai dari awal dengan memberikan kesempatan pada penonton untuk mengambar. Dalam dialog dinyatakan, “ini adalah isi kepala kalian”. Beban harus mengambar menciptakan situasi kecemasan, ketakutan dan kondisi paranoid yang beragam. Dengan kata lain, dengan pemahaman teks yang baik, Maria sebagai aktor maupun penonton mengalami schizophrenia yang sama walaupun menggantung dalam jaring laba-laba pikiran. Pertunjukan ini mempunyai kesamaan dengan kisah nyata Sybil seorang penderita schizophrenia pada tahap multi kepribadian.

Sybil adalah nama generik bagi kasus schizophrenia. Berawal dari laporan terapis psikoanalisis yang disetujui klien bernama Sybil. Sybil memiliki 12 kepribadian. Delapan merupakan kepribadian dominan. Empat sisanya muncul apabila dalam kondisi kritis dan membutuhkan bantuan. Sebagai manusia dan tokoh yang unik Sybil nyaris tidak membutuhkan orang lain karena ke 12 karakter yang mendiami satu tubuh fisik itu hadir secara kolektif walaupun mereka tidak harus hadir secara bersamaan. Bayangkan, Sybil bisa muncul sebagai seorang perempuan matang yang anggun dan berpendidikan tinggi, pelukis mumpuni. Dan karakter yang jarang muncul adalah kembar laki-laki remaja. Mereka terampil dalam pekerjaan yang secara tradisional dikenal sebagai pekerjaan laki-laki seperti memperbaiki alat-alat elektronik, mesin, kendaraan bermotor dan pertukangan. Kehadiran karakter dalam fisik Sybil mengambil bentuk yang spesifik.

Secara umum, karakter Sybil nyata adalah perempuan yang mengalami kecemasan (anxiety) kronis. Dan ini ditandai dengan fisik yang lemah dan rapuh. Bila muncul karakter perempuan matang yang anggun dan berpendidikan tinggi, maka pose tubuh menjadi anggun dan lebih tinggi beberapa senti, wajahnya lebih cerah dan memikat. Karakter kembar laki-laki menyebabkan tubuh fisiknya lebih tegap dan suaranya memiliki kualitas laki-laki remaja. Sybil menderita schizophrenia sekaligus paranoid. Menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Tapi siapa sangka, pelaku kekerasan dalam rumah tangga bukan laki-laki justru sang ibu. Sebagai upaya untuk dapat hidup berdampingan dengan ibunya, Sybil secara tidak sadar merepresi diri sendiri, menekan pribadi dirinya yang utuh dan nyata. Ini cirri khas pasien schizophrenia.

Pengalaman traumatik memang tidak bisa dengan serta merta lenyap. Terkadang pengalaman itu menghantui dan menyiksa seumur hidup. Dalam diri Sybil, pengalaman traumatik mengambil bentuk personifikasi kebutuhan dasar dirinya menjadi karakter-karakter tertentu. Misalnya, kebutuhan akan kasih sayang ibu muncul dalam bentuk perempuan matang yang anggun dan berpendidikan tinggi. Sedangkan kebutuhan untuk merealisasikan dirinya muncul sebagai karakter sang pelukis. Lalu mengapa harus ada karakter lembar lelaki remaja? Jawabannya mudah saja, mereka adalah kebutuhan Sybil akan tokoh ayah dan kebutuhan seksual terhadap lelaki.

Hanya saja pilihan naskah dengan tema yang cenderung spesifik ternyata tidak sesuai dengan audien. Naskah ini lebih baik dipertunjukan pada penonton dengan tingkat apresiasi terasah sehingga akan dapat dilihat secara menyeluruh kemampuan Maria dalam mengeksploitasi tubuh, pemahaman teks dan tema, dan pengolahan estetika monolog. Jaring laba-laba mungkin dimaksudkan sebagai jaring pikiran yang menyimpan ragam kognitif masing-masing tokoh dalam kasus schizophrenia pada tahap mengimajinasikan bentuk. Akan tetapi karena orientasi teks hanya pada tahap ini maka yang muncul dominan adalah imajinasi masing-masing karakter yang muncul dalam pikiran dan beban imajinasi tersebut hanya ditanggung oleh Maria. “Hung Voices” atau Lupa Kau Lupa Aku” sebagai teks mampu merepresentasikan tema namun sebagai naskah monolog maka teks masih didominasi oleh satu tokoh. Namun karena dilema definitif mengenai monolog masih diperdebatkan karena beragam istilah maka hal ini dapat difahami.

Harus diakui pertunjukan ini tidak bertujuan untuk menghibur penonton karena orientasi teks/naskah dari awalnya memang tidak orientasi hiburan. Oleh karena itu pementasan cenderung monoton dan menimbulkan kejenuhan. Namun, sepertinya kejenuhan penonton memang sesuatu yang diinginkan naskah karena situasi kejiwaan, situasi schizophrenia yang menjadi acuan utama. Ini merupakan paparan realitas suatu masyarakat yang mengidap penyakit schizophrenia turun temurun. Masyarakat itu adalah kita. Normalitas fisik tidak didukung normalitas kejiwaan. Ketakutan tidak berkuasa, kecemasan dianggap sebagai terdakwa, keinginan dianggap sebagai pahlawan dan ragam kecemasan lainnya merupakan cermin schizophrenia itu, diakui ataupun tidak. Perbedaannya dengan masyarakat lain adalah schizophrenia pada diri kita sangat mendominasi.

 

Rabka: Kecemasan yang Berbeda

 

Sabtu, 24 Mei 2008 Chory Marbawi akan pentas dengan naskah”Rabka” karya Arthur S. Nalan. Naskah ini pada prinsipnya menawarkan situasi schiphrenia yang agak berbeda. Hanya ketakutan, kecemasan semata tanpa mengacu pada tahap imajinasi bentuk dan kepribadian yang terbelah. Aspek psiko sosial cenderung diutamakan sehingga pada prinsipnya tokoh yang hadir akan tetap tunggal. Apa yang menjadi acuan utama kekuatan teks, pemahaman tema atau keaktoran yang bersifat fisik.

 

Firdaus Malaka

Essay Seni

“Penggali Perut” Sekedar Penggali Perut

Seperti dikemukakan pada ulasan sebelumnya, hari kedua 18 Mei 2008 menyajikan “Penggali Perut” karya Anton De Sumartana yang direpresentasikan oleh Zaidan.  Saya mengibaratkan penampilan monolog Zaidan pada hari kedua AiR sepekan monolog ini berada pada sebuah lintasan kereta api. Artinya walaupun interpretasi teks yang dilakukan oleh Zaidan secara personal dan interpretasi internal teks “Penggali Perut” memang menuju satu stasiun yang sama namun baik Zaidan maupun teks “Penggali Perut” hanya bergandengan saja. Tidak terjadi penyatuan yang utuh antara Zaidan dan teks “Penggali Perut” dalam pertunjukan hari kedua ini.

Stasiun teks “Penggali Perut” adalah kontradiksi antara naluri manusia untuk mencukupi kebutuhan fisik dengan nurani yang menggawangi setiap perbuatan manusia. Bila dirujuk kepada pendapat Sigmund Freud, teks “Penggali Perut” adalah pertarungan abadi antara id (naluri) dan superego (nurani).  Karena  pertarungan antara naluri dan nurani adalah stasiun akhir teks “Penggali Perut”, maka isi perut teks ini justru berupa gambaran ironis daya upaya manusia dalam mengisi perut. Di sinilah Anton De Sumartana ingin mengejek diri sendiri. Karena Freud mengatakan bahwa pribadi (ego) adalah “sekedar” alat untuk mencapai kepuasan “naluri”. Dengan lincah Anton De Sumartana mengejek pribadi manusia yang kehilangan nurani karena harus memenuhi kepuasan naluri.

Sebagai lintasan kereta api teks “Penggali Perut” menjadi rambu-rambu bagi pekerja teater. Sebagai pekerja teater, Zaidan menjadi lintasan yang mengiringi rambu-rambu ini. Artinya Zaidan baru membaca teks “Penggali Perut” sebagai teks saja. Zaidan baru melakukan pemindahan teks “Penggali Perut” dari teks tulis-baca menuju menghapal dan penampilan ala mendongeng. Untuk penampilan ala mendongeng ini Zaidan memang patut diacungi jempol. Memang dalam penampilan mendongeng yang diutamakan adalah struktur narasi. Aspek kausalitas linear ditonjolkan karena dongeng harus menjadi sebuah cerita yang utuh dari awal sampai akhir. Zaidan memang unggul dalam mempertahankan kausalitas cerita dalam teks “Penggali Perut”.

Sayangnya, penampilan monolog adalah suatu dialektika di dalam dirinya sendiri. Penampilan monolog mengharuskan lebih dari aspek kausalitas. Penampilan monolog adalah uji kompetensi untuk memberi sertifikasi kepada seorang aktor. Penampilan monolog adalah kesempatan bagi seorang aktor untuk membuktikan bahwa ada gejala identifikasi sang aktor terhadap karakter-karakter yang saling berlawanan dan  bertabrakan dalam satu teks saja. Karena itu, interpretasi atas teks monolog harus dibangun dengan rasa curiga dan was-was. Tanpa kecurigaan dan was-was maka meluncurlah teks monolog menjadi dongeng.

Secara definitif monolog masih menimbulkan dilema tersendiri. Persoalan yang sering terjadi adalah apakah memang dalam naskah monolog harus ada keragaman karakter, apakah memang aktor harus menanggung beban keseluruhan karakter. Untuk menjawab pertanyaan ini dapat dikemukakan beberapa bandingan berikut. Monolog “Sarimin” karya Agus Noor yang diperankan Butet Kertarejasa cenderung tidak tunggal. Pada dialog tertentu beberapa karakter justru dibantu pengisi suara meskipun Butet sebagai Sarimin tetap mendominasi. Benny Johanes misalnya cenderung memerankan tokoh tunggal dalam naskah “Arkeologi BeHa” bahkan secara definitif menamakan pertunjukannya sebagai mono drama. Naskah “Kucing Hitam” karya Poe yang sebetulnya merupakan cerpen juga memiliki tokoh tunggal.

Dari beberapa bandingan tersebut sebetulnya diketahui bahwa monolog dengan multi karakter atau mono karakter ditentukan oleh kekuatan tema dan kepentingan intervensi kultural dan ideologi. Pada penampilan Zaidan dengan teks monolog “Penggali Perut” yang lebih diutamakan adalah representasi tekanan ekonomi. Hanya saja jika boleh dikatakan sebagai kelemahan adalah dominasi penampilan mendongeng dampaknya adalah karakter lain cenderung terabaikan. Tegasnya tidak terdapat perbedaan spesifik antara masing-masing karakter kecuali hanya dibedakan oleh teknik vokal yang lagi-lagi masih berciri Zaidanisme.

 

Sssst Diam!: Pemberontakan Didi Haryadi

 

Hari ketiga, Senin 19 Mei 2008, Didi Haryadi akan mempertontonkan kemampuannya dalam berteater melalui upayanya untuk merepresentasikan teks “Ssst Diam” karya Giri Ratomo dalam pertunjukan monolog. Kesederhanaan menjadi ciri utama naskah ini melalui pemaparan setting yang minimal, tokoh dan karakter tunggal, serta dialog yang sederhana namun memiliki kekuatan tematis. Mampukah Didi secara personal memperkaya tema yang dikemukakan penulis naskah.

Firdaus Malaka

 

 

 

Essay Seni

 Dilema Wahyu dan Realitas Kebenaran

Setelah menonton pertunjukan monolog ini, saya teringat dengan sepucuk surat yang disampaikan alm. Kuntowijoyo kepada alm. Fahri menjawab pertanyaan tentang latar belakang historis terciptanya novel Khotbah di atas Bukit. Dengan sederhana dan hanya sebaris kalimat beliau menjawab. Novel itu tercipta ketika masyarakat Jawa terobsesi dengan kehadiran Imam Mahdi, Mesiah, Ratu Adil, bahkan yang masih terpelihara sampai saat ini adalah kemunculan Satrio Piningit. Suatu jawaban sederhana tetapi mematahkan seluruh analisis yang telah dilakukan Fahri terhadap analisis novel “Khotbah di atas Bukit” sebagai skripsi.

Seketika itu pula, sinopsis yang mengungkapkan Masmirah mengandung anak raja Majapahit meski digurigai sebagai anak memedi. Dengan keyakinannya serta dukungan seorang kyai Masmirah melahirkan anak yang diberi nama Sembodo meski akhirnya meninggal dunia. Masmirah kemudian menjadi paranormal meski berbekal air putih dari gentong. Sinopsis ini agaknya membenarkan pernyataan alm Kuntowijoyo bahwa impian datangnya penyelamat masih melekat dalam pikiran masyarakat. Sekaligus mementahkan asumsi bahwa “Masmirah” hanya sekedar naskah monolog dengan multi karakter.

Aspek mimpi lebih tepatnya impian direpresentasikan dengan baik oleh Genjer. Secara ideal ia mampu “mewakili” keseluruhan tokoh yang terdapat dalam naskah meskipun kerap dibantu dengan perubahan posisi, pembedaan karakter dialog, penanda musik, oposisi mimik, bahkan gerak. Ia mampu mewujudkan perbedaan masing-masing tokoh dengan baik sehingga harus diakui pada tokoh tertentu, personalisasi aktor yang diberi beban untuk mewakili keseluruhan karakter cenderung hilang, menyatu dalam tokoh yang diperankan. Ini suatu keberhasilan penghayatan karakter yang baik.

Keberhasilan utama dalam merepresentasikan perbedaan karakter masing-masing tokoh ditentukan oleh kemampuan mengeksploitasi tubuh yang tidak hanya tubuh fisik tetapi juga tubuh sebagai ruh. Hal ini juga diperkuat dengan ritme narasi teks yang stabil. Meskipun juga terpeleset merepresentasikan karakter dr. Sitanggang dan karakter Kyai yang cenderung naïf. Itupun dapat difahami karena secara fisik keduanya amat berbeda dan entah disengaja atau tidak tokoh ini dihadirkan atau memang didasarkan interpretasi sebagai hasil proses pemahaman terhadap teks. Jika memang terdapat dalam teks maka keberadaan kedua tokoh ini hanya sebagai pelengkap semata. Sehingga representasi kedua karakter dalam pementasan cenderung fisikal, tak berjiwa.

Eksploitasi tubuh yang baik mengambarkan interpretasi terhadap teks dilakukan dengan baik. Hal ini dikarenakan kedua proses harus berjalan seiring sebab jika terabaikan salah satunya maka pementasan monolog Masmirah ini akan gagal. Naskah ini dapat dikategorikan sebagai repertoar yang membutuhkan kemampuan intelektual memadai dalam proses interpretasi karena terdapat  intervensi kultural dan ideologi terhadap naskah. Hal ini dilakukan dengan baik sehingga intervensi tersebut tidak hanya terdapat di dalam teks tetapi melekat dalam pikiran penonton. Entah diakui ataupun tidak.

Kritik pementasan monolog “Masmirah” terdapat pada aspek estetika. Beberapa setting panggung cenderung mengganggu. Pemanfaatan kain putih sebagai layar hanya bersifat simbolis karena dipaksa merepresentasikan tokoh Raja Majapahit. Hal ini memperkuat asumsi bahwa faktor historis naskah “Masmirah” adalah situasi masyarakat yang menghadapi kesulitan sosial, ekonomi, bahkan bidaya sehingga mendambakan kedatangan Imam Mahdi, Mesiah, Ratu Adil, atau Satrio Piningit. Hanya saja dalam pementasan, tokoh spiritual yang didambakan hanya hadir dalam bayang-bayang di balik layar.

Tanggapan juga dilakukan terhadap pemanfaatan kendi yang difungsikan secara maksimal sebagai alat berpijak Raja Majapahit. Secara kultural kendi dalam masyarakat Jawa menduduki fungsi yang bersifat hakiki dikarenakan kegunaan menampung air bersih yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu kendi menempati posisi penting dan terhormat dalam kelengkapan rumah tangga masyarakat Jawa. Suatu keluarga yang secara fisik telah memiliki dan menempati rumah akan tetap merasa tidak lengkap dan merasa bersalah jika tidak ada kendi di rumahnya. Oleh karena itu penempatan Raja Majapahit di atas kendi terasa mengecilkan arti penghormatan kultural. Hal ini dikarenakan Raja Majapahit secara kultural dianggap mewakili keseluruhan masyarakat Jawa dan secara spiritual dianggap sebagai wakil Tuhan. Bisa jadi pula pemanfaatan kendi dengan memposisikan Raja Majapahit yang berdiri di atasnya dilakukan sebagai kritik kebudayaan. Inilah yang dimasud dengan dilema wahyu dan realitas kebenaran.

Bagaimanapun harus diakui pementasan monolog “Masmirah” berhasil dalam merepresentasikan karakter masing-masing tokoh. Interpretasi terhadap tekspun dilakukan dengan baik sehingga beban aktor sebagai pelaku tunggal yang mesti bertanggung jawab untuk “menghadirkan” keseluruhan tokoh dalam teks naskah ke teks pertunjukan dapat terpenuhi. Ini merupakan bahan renungan dan sekaligus bahan acuan bagi aktor yang ingin menjadikan monolog sebagai pilihan dalam aktivitas teaternya.

 

Hari kedua, 18 Mei 2008, mementaskan monolog “Penggali Perut” karya Anto D. Danuarta. Aktor Zidan yang selama dikenal sebagai “pengocok perut” sekarang harus menggali perut. Ia mesti mampu merepresentasikan dengan baik, tekanan ekonomi  membuat orang menghalalkan segala cara. Misalnya seorang penggali kubur yang beralih profesi menjadi penjaga mayat karena prospek ekonomi lebih menjanjikan dengan cara menjual organ tubuh dari mayat-mayat yang dijaga.

 

Firdaus Malaka

Sabtu, 17 Mei 2008, akhir pekan yang diselimuti cahaya matahari menyengat. Dalam situasi seperti ini pentas hari I, AiR Sepekan Monolog digelar. Naskah “Masmirah” karya Arthir S Nalan diimplementasikan oleh Kartika Megasari yang akrab disapa Genjer. Teater Arena Taman Budaya Jambi yang sebelumnya telah dikenal panas, hari ini semakin panas dengan sesaknya penonton. Mungkin karena keingintahuan kemampuan keaktoran seorang Genjer, sekedar menonton karena “paksaan” sekolah, atau memang benar-benar murni karena kesadaran menikmati pertunjukan teater dalam hal ini monolog sebagai pemenuhan kebutuhan batiniah.

Essay Seni

AiR Sepekan Monolog: Suatu Pengantar Dialog 

Dalam rangka Seabad Kebangkitan Nasional dan Delapan Tahun Teater Art in Revolt (AiR) digelar “Air Sepekan Monolog” di Teater Arena Taman Budaya Jambi, 17-23 Mei 2008. Agenda yang digelar menjelang “dirubuhkannya” Teater Arena merupakan upaya menggairahkan situasi perteateran Jambi yang cenderung stagnan dan jalan di tempat karena geliat eksplorasi yang masih pada pemenuhan capaian-capaian eksistensial (pencapaian terendah dalam kesenian). Meskipun terdapat beberapa kelompok yang mencoba menawarkan konsep estetika pada khalayak di luar Jambi namun harus diakui upaya hanya berhasil memperkuat sosialisasi dan membangun jaringan komunikasi dengan sesama pekerja teater.

Seperti dinyatakan dalam panduan pementasan, monolog dipilih sebagai bentuk pertunjukan teater karena keinginan mewujudkan eksplorasi-eksplorasi kreatif baik dari sisi tema, bentuk maupun artistik. Hal ini dimungkinkan karena monolog sebagai satu di antara bentuk pertunjukan teater memiliki ragam kelengkapan pendukung seperti musik, tari, sastra, dan pilihan tema. Keseluruhan aspek pendukung ini harus mampu diwujudkan aktor sebagai pelaku tunggal sehingga kekuatan imaji dan kreatifitas dapat terungkap secara utuh. Dukungan pada kemampuan eksplorasi untuk menemukan bentukan-bentukan baru sejalan dengan ideologi Teater Air yaitu sikap menolak selubung usang dan emosi-emosi mati. Air Sepekan Monolog merupakan ujian setiap aktor yang selama ini mengolah kemampuan kreatifitas. Enam naskah yang disajikan merupakan representasi interpretasi beragam terhadap teks naskah monolog. Keragaman naskah yang akan memicu “sakit kepala” penikmat teater.

Tulisan ini pada hakekatnya merupakan pengantar analisis terhadap pertunjukan monolog yang disajikan. Beberapa aspek yang akan diulas yaitu kemampuan aktor mengeksploitasi tubuh, pemahaman terhadap teks, interpretasi tema, memaknai estetika teater secara keseluruhan. Ulasan terhadap kemampuan mengeksploitasi tubuh dilakukan untuk memaparkan pemanfaatan tubuh sebagai fisik dan tubuh sebagai ruh. Pertunjukan monolog menuntut adanya ragam pemahaman dari berbagai tokoh yang diperankan. Oleh karena itu jika eksploitasi tubuh hanya sebatas fisik maka tubuh menjadi produk yang instan dan mekanik. Sebaliknya jika roh tubuh yang dieksploitasi maka akan terjadi penyatuan tubuh fisik dengan tubuh rohani (tubuh yang ideal). Suatu keakraban yang sesungguhnya sekaligus kenikmatan yang sejati.

Teks naskah baik monolog maupun teks multi dialog cenderung diperlakukan hanya sebagai teks. Acuannya yang digunakan adalah kemampuan menghafal dialog dan kemampuan merepresentasikan dialog melalui ekspresi, gerak, tubuh, pencahayaan yang relevan, dan artistik pentas yang simbolis. Akibatnya teks menjadi tidak bernyawa bahkan hanya sekedar memaparkan luapan dialog yang cenderung kering. Oleh karena itu pemahaman terhadap teks naskah dalam pementasan monolog dilakukan agar terdapat penyatuan ragam pikiran tokoh sehingga teks menjadi hidup. Oleh karena itu naskah harus diperlakukan tidak sekedar teks tetapi lebih dari itu  sebagai implikasi pemahaman ideologi. Sehingga adrenalin kritis memacu gairah berfikir.

Keragaman tema merupakan ciri utama monolog. Memang, dari sisi pertunjukan dominasi tokoh tunggal tetap menjadi acuan. Akan tetapi karena tuntutan multi karakter maka aktor harus menguasai keragaman tema tersebut yang terkadang diungkapkan secara spontan oleh karakter tertentu dalam naskah. Kesinambungan pemahaman terhadap ragam tema terwujud jika aktor mampu mengeksploitasi tubuh secara fisik maupun non fisik, dan perlakuan ideal terhadap teks. Suatu kenikmatan tersendiri jika penonton disajikan keutuhan ini.

Sebagai suatu pertunjukan teater monolog adalah suatu aransemen dalam dirinya sendiri. Sebagai suatu aransemen dalam dirinya sendiri, aktorlah yang menjadi titik tumpu kekuatan sebuah pementasan. Tata rias, tata cahaya, kostum, properti, dan perlengkapan lainnya hanyalah alat bantu. Semua alat bantu itu hanya akan berarti apabila sang aktor mampu mendayagunakan mereka demi keutuhan tema penampilan. Penampilan yang harmonis hanya akan dicapai apabila sang aktor dapat bertindak sebagai penjaga ritme permainan seperti konduktor dalam sebuah orchestra. Dengan demikian, kedalaman tema yang diusung dapat mencapai titik optimal sehingga monolog bergerak menuju ruang dialog dalam batin penonton. Estetika monolog hakikatnya adalah dialektika monolog menuju dialog.

 

Firdaus Malaka      

« Newer Posts