Mungkin hanya dua rangkai kata, bisa saja bermakna, bisa pula tidak bermakna. Namun sebagai suatu ironi yang terungkap disini adalah kegelisahan, kesedihan, kegundahan dan aktualisasi bawah sadar lainnya. Lalu batanghari menyempal. SungaiĀ ini berabad-abad menjadi saksi perjalanan manusia disisi-sisi tubuhnya. Di masa lalu, ya masa kecilku, airnya bening sebening hati setiap orang yang mandi di airnya. Sesuci anak-anak yang berebutan terjun ke air batanghari, lalu tertawa riang. Aku pernah terlelap dalam cintanya, hanya saja ibu menarik tanganku, kurasakan air batanghari sedikit bergelombang. MungkinĀ cemburu pada cinta ibuku. Kini, airnya keruh, tak terlihat lagi wajahku yang dulu riang. Aku memang makin tua, canda dan kenakalan makin hilang. Tapi cinta pada batanghari sesuci cinta pada kata-kata. Dan ironi batanghari adalah muatan rasa, muatan gelisah karena peradaban makin keruh.