Puisi
Pentas Kehampaan:
Kristin Fuad Fourina
perempuan itu menatap tepi huma,
tanah gersang, rumputan merangas
dan sisasisa air mengalir di sisi kakinya
“inilah yang tersisa dari sebidang kehampaan!”
perempuan itu menatap ke arah angin.
tak ada yang tampak. hanya ada suara guguran daun kering.
lambaian laki-laki itu indah seperti tarian ilalang
namun perempuan itu mendamba tarian bidadari turun ke bumi
tapi sungguh, tak ada pelangi:
jembatan indah dalam mimpi kanak-kanak
“mendekatkan, bibit yang kutanam itu telah tumbuh!”
perempuan itu menatap dedaunan kering.
tak ada yang menggeliat, hanya sentuhan sisasisa air dikakinya.
senandung burung kecil yang menari dihadapan.
mengguap seperti embun dicumbu matahari,
tak sempat jatuh ke bumi:
menyapa kekasih yang dirindukannya berabadabad.
“kemarilah, telaga kecil yang kugali telah dialiri sedikit air!”
perempuan itu memungut ranting kering.
lalu melemparkan ke langit
burung kecil sambil menari menangkap ranting itu.
terbang, kemudian menjatuhkannya
di telaga basah itu, hanya basah tanpa air.
lakilaki yang setia mencangkul huma kering tersenyum:
ada air dimatanya.
Jambi, 13 November 2010. Firdaus