mengaruskan air mengalirkan rasa
ironibatanghari.wordpress.com

Puisi

Pentas Kehampaan:

Kristin Fuad Fourina

 

perempuan itu menatap tepi huma,

tanah gersang, rumputan merangas

dan sisasisa air mengalir di sisi kakinya

 

“inilah yang tersisa dari sebidang kehampaan!”

 

 

perempuan itu menatap ke arah angin.

tak ada yang tampak. hanya ada suara guguran daun kering.

lambaian laki-laki itu indah seperti tarian ilalang

namun perempuan itu mendamba tarian bidadari turun ke bumi

tapi sungguh, tak ada pelangi:

jembatan indah dalam mimpi kanak-kanak

 

“mendekatkan, bibit yang kutanam itu telah tumbuh!”

 

 

perempuan itu menatap dedaunan kering.

tak ada yang menggeliat, hanya sentuhan sisasisa air dikakinya.

senandung burung kecil yang menari dihadapan.

mengguap seperti embun dicumbu matahari,

tak sempat jatuh ke bumi:

menyapa kekasih yang dirindukannya berabadabad.

 

“kemarilah, telaga kecil yang kugali telah dialiri sedikit air!”

 

perempuan itu memungut ranting kering.

lalu melemparkan ke langit

burung kecil sambil menari menangkap ranting itu.

terbang, kemudian menjatuhkannya

di telaga basah itu, hanya basah tanpa air.

lakilaki yang setia mencangkul huma kering tersenyum:

ada air dimatanya.

 

Jambi, 13 November 2010. Firdaus

 

No Responses ke “Puisi”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.