mengaruskan air mengalirkan rasa
ironibatanghari.wordpress.com

Situs Candi Tergerus Ekskavator

Proyek Pembukaan Jalan

JAMBI, TRIBUN – Areal situs Candi Muaro Jambi di Kecamatan Muaro Sebo Kabupaten Muaro Jambi, Rabu (21/7) tergerus alat berat ekskavator pembukaan jalan karya bakti TNI. Untuk menghindari kerusakan yang lebih parah, Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) dan Dinas Pariwisata Provinsi Jambi minta proyek dihentikan.  Selain itu,  keberadaan situs harus dipertahanakan karena telah didaftarkan ke Unesco untuk dijadikan situs warisan dunia.
Pembukaan jalan tersebut baik. Hanya saja kita menolak bila dilakukan dengan menggunakan ekskavator atau alat berat lainnya,” tegas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi Dr Ir Didy Wurjanto MSi, Rabu (21/7).
Dikatakannya, penggunaan alat berat tersebut bisa merusak keberadaan situs yang masih tersembunyi  dan terkubur di areal tersebut. Terutama keberadaan menapo (gundukan batu candi yang belum dipugar)  yang masih terkubur. Bila hal tersebut sampai terjadi bukan mustahil pengajuan situs  Muaro Jambi sebagai warisan dunia bisa ditolak oleh Unesco.
Seharusnya pengerjaan bangunan dan pengerjaan jalan yang berada di areal situs harus dilakukan dengan manual,” ujar Didy Wurjanto.
Sementara Dandim 0415 Batanghari Letkol (Inf) Aufit Chaniago saat dikonfirmasi mengatakan  proyek tersebut merupakan milik Pemkab Muaro Jambi. Tujuannya untuk membuka akses transportasi ke komplek situs Candi Muaro Jambi.
Itu milik Pemkab bekerjasama dengan TNI dalam pengerjaannya,” ungkap Aufit.
Aufit juga mengatakan bahwa sebelum diturunkannya alat berat, sudah dilakukan survei jalur yang bakal dibuka untuk jalan. Dari survai itulah, proyek pembukaan jalan tidak mengenai situs candi dan menapo.  Oleh karena itu, mereka tetap akan melanjutkan pengerjaan jalan tersebut. Sebab, masa kerja tersebut dijadwalkan hanya 21 hari.
Apa yang kita lakukan untuk membuka akses jalan menuju Candi dan tidak merusak situs itu sendiri. Biarlah itu dikerjakan hingga selesai,” ungkap Aufit Chaniago.
Terpisah Johan, Humas Pemkab Muaro Jambi saat dikonfirmasi mengatakan proyek pembukaan jalan meerupakan Proyek Karya Bakti TNI. Namun, dirinya tidak spesifik mengungkapkan dimana pengerjaan proyek tersebut. Dirinya juga membantah bila proyek karya bakti yang dikerjakan TNI di situs Muaro Jambi tersebut milik Pemkab Muaro Jambi.
Itu milik Pemprov. Karena yang terkait situs Muaro Jambi, Pemkab tidak ikut campur,” ujarnya.

Sempat Bersitegang
Didi
kemarin langsung turun kelokasi proyek karya bakti tersebut dan meminta kepada aparat TNI yang berada di lapangan untuk menghentikan pengerjaan dan penggerusan jalan dimaksud. Namun, permintaannya ditolak oleh anggota TNI yang bertugas dengan alasan harus terlebih dahulu memberikan surat larangan pengerjaan jalan yang dimaksud.
Kami hanya menjalankan perintah. Kalau kami hentikan sepihak, kami bisa di anggap tidak loyal oleh atasan dan dianggap menentang. Tapi bila diteruskan kami juga disalahkan. Untuk itu, kami meminta diberikan surat resmi yang bisa disampaikan kepadapPimpinan,” ungkapnya.
Anggota TNI ini juga memberikan alasan bila mereka menemukan gundukan Menapo maka penggerusan jalan akan dibuat memutar. Sehingga tidak sampai mengenai keberadaan situs tersebut. Mereka juga menggunakan tenaga warga setempat yang mengetahui keberadaan menapo-menapo di areal yang akan digerus. Namun, pada kenyataanya, ketika kunjungan Kepala Dinas Kebudayaan  dan Pariwisata Provinsi Jambi, terlihat satu menapo sudah tergerus oleh alat berat tersebut.
Anggota TNI tersebut mengungkapkan bahwa proyek tersebut milik Pemkab Muaro Jambi dan Diketahui Dinas Pekerjaan Umum Muaro Jambi. Namun, pengerjaannya diperbantukan TNI di lapangan untuk penggerusan jalan. Bahkan, pihak kecamatan dan BP3 juga sudah diberitahukan hal tersebut.
Kepala BP3 Jambi Drs Wiston Sam Dauglas Mambo menyesalkan kurangnya koordinasi antar instansi. Terutama instansi dari Pemkab Muaro Jambi dan Provinsi dalam mengerjakan proyek tersebut. Untuk itu, dirinya meminta sebelum pengerjaan dilanjutkan, dirinya meminta peta lokasi yang akan dibuatkan jalan tersebut.
Fungsinya peta tersebut untuk melihat apakah jalur yang akan dibangun menindas situs atau tidak. Jika itu tidak diindahkan, kita khawatir usaha pengusulan ke Unesco akan batal sia-sia,” ungkap Wiston.
Sementara itu, Roy Asnawie ketika hadir di komplek situs candi Muaro Jambi justru tidak mengetahui adanya proyek pengerjaan jalan tersebut.  Dirinya baru mengetahui justru ketika hadir ke areal komplek Candi Muaro Jambi. Dirinya meminta sementara pengerjaan proyek tersebut dihentikan dan menuggu hasil koordinasi lebih lanjut.
Tujuannya baik. Hanya saja kurang koordinasi dengan instansi terkait. Kami akan bicarakan peristiwa ini, maka untuk sementara dihentikan,” ungkap Roy.
Bujang Ismail, warga yang tanahnya terpakai untuk pembangunan jalan mengatakan kalau sesungguhnya warga menolak pembangunan jalan tersebut. Sebab, tidak ada penggantian dari pihak pemerintah dan perusahaan yang mengerjakan. Bujang juga sangat menyayangkan pengerjaan jalan dengan menggunakan alat berat.
Disinikan padat dengan tumbuhan dan tanaman warga. Tanah juga milik warga, namun digunakan tanpa penggantian. Tentu kami tidak mau. Apalagi pengerjaan dengan alat berat bukan dengan tradisional,” ungkap Bujang Ismal. (dun)

Sumber: Tribun Jambi, 22 Juli 2010.

No Responses ke “Situs Candi Tergerus Ekskavator”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.