Rinduku, Rindu Lautmu
“selamat malam, tak baik duduk sendiri!”
seseorang menyapa. tapi mataku menatap pancing.
ada sentuhan di ujung kail. halus namun menggelora.
“kesendirian terkadang membawa bahagia”
ia tak menjawab. angin bersiul keras tapi sekejap.
ada hentakan-hentakan kecil di papan dermaga
tapi mataku masih menatap mata pancing.
kailku menari indah, meliuk-liuk.
“tak baik mengumbar rindu!”
ia tahu hatiku. ah, mungkin hanya bergurau
seperti kisah lalu di beranda rumah panggung
saat seorang gadis tersipu malu,
“adik, wajahmu seperti delima!”
ada suara angin tapi tak bersiul keras
mendayu, bergelombang, lincah dan riang.
kakiku tiba-tiba sejuk, aku menoleh,
seekor ikan menempeli punggung kaki.
“bukankah itu ikan yang memakan umpan?”
tapi matanya menatapku. basah seperti air mata.
“aku rindu, rindu rumah di sela-sela karang!”
tiba-tiba ia melompat ke laut
aku tersenyum, “rinduku, rindu lautmu!”
Pulau Berhala, Mei 2006, Firdaus
bagus, jarang orang membuat puisi dengan pengantar cerita seperti ini. Sederhana tapi cantik, terutama alegori ikan dengan pemancing yang saling meng-umpamakan diri satu dengan yang lain sebagai mahluk yang merindu.