Merenungi Berhala
duduk dekat makammu, datuk
aku dengar suara dedaunan
merintih namun ikhlas, perih namun tabah.
pada tanah makammu, aku berbisik,
“datuk. lihatlah ada keramaian
tapi bukan adzan bukan pula senandung ayat suci
hanya sekumpulan suara tak bermakna!”
setetes air menyentuh punggung tangan
berkilau diterpa cahaya matahari yang menyelinap di dedaunan
“itukah kau datuk, menyapaku atau berkeluh.
ya datuk, di bebatuan ada bujang dan gadis
tak lagi malu-malu, melukis keringat
pada bebatuan kemudian tersenyum”
sehelai daun gugur menyentuh kaki
sekejap menghitam lalu terbang bersama angin.
“kakiku datuk, ya kakiku telah dibersihkan
tapi daunmu masih saja menyapunya.
ya, datuk, kakiku seperti kaki mereka
punggung kaki amat bersih, tapak kaki berkilau
tapi debu tak hendak pergi”
ada air jatuh. setetes. dua tetes, lalu gerimis.
rimbun dedaunan jadi peneduh
namun gerimis berirama seumpama tangis,
aku pulang dengan sebongkah luka.
ada sentuhan di pundak, ranting kayu
dan angin berbisik, “kabarkan gelisahku!”
Pulau Berhala, Feb-Mei 2006
bagus pemilihan kata dan metaforanya, sayang, fokusnya kadang hilang atau terlihat hilang karena tidak ada pemisahan bait padahal disatu sisi tema dan fokus penulisan sudah berubah. Menjadikan pembaca merasa kurang mengalir ketika membaca puisi ini.
tapi tetap, salut.