Simponi Air
acap tersirat bisikbisik masa lalu
dalam kesahduan mimpi-mimpi,
“simaklah suara air mengalun seindah sepoi angin!”
dan seulas senyum kerap terlukis di bibir merah
lalu, ketika mimpi-mimpi dikalahkan rayuan matahari
sepoi angin pun berlalu diterpa hembusan knalpot
dan alun air berganti genangan di tapak sepatu.
namun bisik-bisik masa lalu masih menggoda gendang telinga,
“ia hanya bercanda pada sepatumu!”
ketika hari makin berlari, senja makin akrab menyapa
wajah-wajah lelah rindu pada genit bintang dan seronok rembulan
sepoi angin berbisik, “tak ada suara alunan air
telah dihanyutkannya mimipi-mimpi malam!”
Jambi, Juni 2008.