“Ini adalah isi kepala kalian”: Schizoprenia yang Paranoid
Jum’at, 23 Mei 2008 di Taman Budaya Jambi representasi schizophrenia tiba-tiba muncul. Semua orang meragukan kemampuan kognitif isi kepalanya. Kondisi ini tercipta karena kemampuan Maria Yulitasari pada pentas monolog “Hung Voices” atau “Lupa Kau Lupa Aku” dalam Air Sepekan Monolog. Perantau ini berproses di Teater AiR yang kemudian memilih Yogyakarta sebagai tempat pendewasaan, studi penulisan skenario di ISI Yogya dan mengolah di Teater Teku dan SAC (Student Acting Centre). Sebagai sosok yang berkembang di wilayah (dalam hal ini Yogyakarta) dengan pergulatan kreatif dan dinamika kesenian yang terus bergerak, pementasan monolog ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi penggiat teater di Jambi bahwa kekuatan teks dan juga pemahaman terhadap teks sangatlah penting.
Naskah “Hung Voices” mengimajinasikan bentuk baik dalam pikiran dan gerak. Ini direpresentasikan dengan simbolisasi gambar-gambar pada jaring laba-laba yang pada dasarnya juga hendak mengungkapkan kekuatan jaringan pikiran. Dalam situasi ini ragam imajinasi tercipta pada penderita schizophrenia sebagai akibat teror terhadap pikiran baik karena faktor kecemasan, ketakutan ataupun hal-hal yang menyebabkan penderitaan dan kesakitan baik psikis maupun jiwa. Jika hendak dikatakan sebagai kekuatan maka pengungkapan imajinasi bentuk dalam kondisi schizophrenia merupakan tema utama teks ini. Teks “Hung Voices” menunjukkan, teks harus ditulis setelah melalui tahapan riset dan diskusi intensif sehingga tidak menjadi naskah hampa. Celakanya, kita teramat sering menulis teks baik skenario dan naskah dalam situasi fisik dan kejiwaan yang tidak labil.
Eskploitasi tubuh melalui ungkapan-ungkapan gerak lentur merupakan suatu pembuktian maksimalisasi gerak fisik yang menyatu dengan eksploitasi ruh tubuh. Ragam kepribadian terpapar nyata meskipun secara kejiwaan terkungkung rumah pikiran. Keterkungkungan ini tercipta karena adanya interpensi suara-suara yang secara material sebetulnya tidak ada tetapi seolah-olah “diadakan” dalam alam pikiran normal. Tahapan mendasar dalam kasus schizophrenia ini akan berubah menjadi split personality bahkan multi kepribadian karena kondisi paranoid yang terus menerus mengganggu. Betapa tidak, Maria mampu hadir dalam tubuh Sen, perempuan, Aura, Alpa, Sweety, dan tokoh-tokoh bentukan imajinatif lainnya. Maria adalah Sen, adalah perempuan, adalah Aura, adalah Alpa, adalah Sweety, adalah pelacur, adalah tokoh imajinatif lainnya.
Kemampuan ini didukung pemahaman teks yang baik. Pada pementasan ini, teks tidak hanya sekedar teks tetapi menjadi jiwa keseluruhan pertunjukan. Schizophrenia hadir pula dalam benak penonton. Keterlibatan penonton dimulai dari awal dengan memberikan kesempatan pada penonton untuk mengambar. Dalam dialog dinyatakan, “ini adalah isi kepala kalian”. Beban harus mengambar menciptakan situasi kecemasan, ketakutan dan kondisi paranoid yang beragam. Dengan kata lain, dengan pemahaman teks yang baik, Maria sebagai aktor maupun penonton mengalami schizophrenia yang sama walaupun menggantung dalam jaring laba-laba pikiran. Pertunjukan ini mempunyai kesamaan dengan kisah nyata Sybil seorang penderita schizophrenia pada tahap multi kepribadian.
Sybil adalah nama generik bagi kasus schizophrenia. Berawal dari laporan terapis psikoanalisis yang disetujui klien bernama Sybil. Sybil memiliki 12 kepribadian. Delapan merupakan kepribadian dominan. Empat sisanya muncul apabila dalam kondisi kritis dan membutuhkan bantuan. Sebagai manusia dan tokoh yang unik Sybil nyaris tidak membutuhkan orang lain karena ke 12 karakter yang mendiami satu tubuh fisik itu hadir secara kolektif walaupun mereka tidak harus hadir secara bersamaan. Bayangkan, Sybil bisa muncul sebagai seorang perempuan matang yang anggun dan berpendidikan tinggi, pelukis mumpuni. Dan karakter yang jarang muncul adalah kembar laki-laki remaja. Mereka terampil dalam pekerjaan yang secara tradisional dikenal sebagai pekerjaan laki-laki seperti memperbaiki alat-alat elektronik, mesin, kendaraan bermotor dan pertukangan. Kehadiran karakter dalam fisik Sybil mengambil bentuk yang spesifik.
Secara umum, karakter Sybil nyata adalah perempuan yang mengalami kecemasan (anxiety) kronis. Dan ini ditandai dengan fisik yang lemah dan rapuh. Bila muncul karakter perempuan matang yang anggun dan berpendidikan tinggi, maka pose tubuh menjadi anggun dan lebih tinggi beberapa senti, wajahnya lebih cerah dan memikat. Karakter kembar laki-laki menyebabkan tubuh fisiknya lebih tegap dan suaranya memiliki kualitas laki-laki remaja. Sybil menderita schizophrenia sekaligus paranoid. Menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Tapi siapa sangka, pelaku kekerasan dalam rumah tangga bukan laki-laki justru sang ibu. Sebagai upaya untuk dapat hidup berdampingan dengan ibunya, Sybil secara tidak sadar merepresi diri sendiri, menekan pribadi dirinya yang utuh dan nyata. Ini cirri khas pasien schizophrenia.
Pengalaman traumatik memang tidak bisa dengan serta merta lenyap. Terkadang pengalaman itu menghantui dan menyiksa seumur hidup. Dalam diri Sybil, pengalaman traumatik mengambil bentuk personifikasi kebutuhan dasar dirinya menjadi karakter-karakter tertentu. Misalnya, kebutuhan akan kasih sayang ibu muncul dalam bentuk perempuan matang yang anggun dan berpendidikan tinggi. Sedangkan kebutuhan untuk merealisasikan dirinya muncul sebagai karakter sang pelukis. Lalu mengapa harus ada karakter lembar lelaki remaja? Jawabannya mudah saja, mereka adalah kebutuhan Sybil akan tokoh ayah dan kebutuhan seksual terhadap lelaki.
Hanya saja pilihan naskah dengan tema yang cenderung spesifik ternyata tidak sesuai dengan audien. Naskah ini lebih baik dipertunjukan pada penonton dengan tingkat apresiasi terasah sehingga akan dapat dilihat secara menyeluruh kemampuan Maria dalam mengeksploitasi tubuh, pemahaman teks dan tema, dan pengolahan estetika monolog. Jaring laba-laba mungkin dimaksudkan sebagai jaring pikiran yang menyimpan ragam kognitif masing-masing tokoh dalam kasus schizophrenia pada tahap mengimajinasikan bentuk. Akan tetapi karena orientasi teks hanya pada tahap ini maka yang muncul dominan adalah imajinasi masing-masing karakter yang muncul dalam pikiran dan beban imajinasi tersebut hanya ditanggung oleh Maria. “Hung Voices” atau Lupa Kau Lupa Aku” sebagai teks mampu merepresentasikan tema namun sebagai naskah monolog maka teks masih didominasi oleh satu tokoh. Namun karena dilema definitif mengenai monolog masih diperdebatkan karena beragam istilah maka hal ini dapat difahami.
Harus diakui pertunjukan ini tidak bertujuan untuk menghibur penonton karena orientasi teks/naskah dari awalnya memang tidak orientasi hiburan. Oleh karena itu pementasan cenderung monoton dan menimbulkan kejenuhan. Namun, sepertinya kejenuhan penonton memang sesuatu yang diinginkan naskah karena situasi kejiwaan, situasi schizophrenia yang menjadi acuan utama. Ini merupakan paparan realitas suatu masyarakat yang mengidap penyakit schizophrenia turun temurun. Masyarakat itu adalah kita. Normalitas fisik tidak didukung normalitas kejiwaan. Ketakutan tidak berkuasa, kecemasan dianggap sebagai terdakwa, keinginan dianggap sebagai pahlawan dan ragam kecemasan lainnya merupakan cermin schizophrenia itu, diakui ataupun tidak. Perbedaannya dengan masyarakat lain adalah schizophrenia pada diri kita sangat mendominasi.
Rabka: Kecemasan yang Berbeda
Sabtu, 24 Mei 2008 Chory Marbawi akan pentas dengan naskah”Rabka” karya Arthur S. Nalan. Naskah ini pada prinsipnya menawarkan situasi schiphrenia yang agak berbeda. Hanya ketakutan, kecemasan semata tanpa mengacu pada tahap imajinasi bentuk dan kepribadian yang terbelah. Aspek psiko sosial cenderung diutamakan sehingga pada prinsipnya tokoh yang hadir akan tetap tunggal. Apa yang menjadi acuan utama kekuatan teks, pemahaman tema atau keaktoran yang bersifat fisik.
Firdaus Malaka